Ahmad Hasyim : “Wong Bejo” Yang Penyabar Dan Penyantun

Ahmad Hasyim putra asli Nganjuk dari Desa Cepoko, Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk, termasuk salah satu tokoh Muhammadiyah yang mempunyai pengaruh yang besar dan memiliki jaringan yang luas. Beliau memilki banyak usaha. Mulai dari toko bangunan, perusahaan mebel, agen minyak tanah, bahkan pemegang ijin STANVAC (Pertamina sekarang), sehingga sorang Ahmad Hasyim memperoleh ijin membuka stasiun pengian bahan bakar atau Pom Bensin. Hubungan dengan Pemerintah daerah juga baik pada saat beliau menjadi Pimpinan Cabang Muhammadiyah Nganjuk. Ahmad Hasyim menjadi Pimpinan Cabang Nganjuk selama dua periode yaitu Periode 1963 – 1965 dan 1965 – 1967.
Pada periode Kepempianan Ahmad Hasyim, Muhammadiyah di Nganjuk mulai mendapat pengakuan dari masyarakat Nganjuk sebagai organisasi yang modern dan banyak membantu masyarakat.. Hal ini sebagai dampak dari ketokohan seorang Ahmad Hasyim yang mempunyai jaringan yang luas. Beliau pernah menjalin kerja sama dengan Lembaga dakwah Islam di Jogjakarta dan Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) HMI. Hasilnya Persyarikatan Muhammadiyah banyak mendapatkan guru ngaji dan tenaga medis dari lembaga tersebut, ketika mengadakan bakti sosial. Dan Muhammadiyah Nganjuk mendirikan beberapa klinik kesehatan di antaranya ada di Pace dan di Berbek dan Kota Nganjuk sendiri.

Ikut Berjuang Sejak Jaman Pendudukan Jepang
Ahmad Hasyim sejak zaman pendudukan Jepang sudah ikut berjuang. Suatu saat ketika Beliau tertangkap oleh tentara Jepang akan di penggal kepalanya. Sebelem di penggal Ahmad Hasyim minta waktu sebentar. Belia membaca surat Qulhu atau al Ikhlas, tiba-tiba algojo Jepang yang memegang pedang itu jadi gemetar, melihat kondisi sang algojo, Ahmad Hasyim melarikan diri. Peristiwa ini dituturkan oleh Dra. Sulistyowati puri nomor 4 dari lima bersaudara.
Pada saat Perang Kemerdekaan, atau zaman Agresi 1947 Ahmad Hasyim juga ikut berjuang di Nganjuk mempertahan kota Nganjuk. padahal saat itu istrinya mengandung dan akan melahirkan. Akhirnya diambil langkah istrinya diungsikan di Mbah Danu di Gondang (sebuah kecamatan di wilayah utara Kabupaten Nganjuk) untuk menjaga keamannannya. Akhirnya sang istri melahirkan anak kembar tanpa ditunggui sang ayah.

1 2 3 4 5 6 7Laman berikutnya
Back to top button