Ahmad Hasyim : “Wong Bejo” Yang Penyabar Dan Penyantun

Perniagaan yang menguntungkan pergaulan yang luas, guru yang serba bisa nampaknya baru sebagian faktor yang membuat Meneer Hasyim disebut wong bejo, hal utama yang menentukan adalah prinsip beliau bahwa harta benda atau uang yang sudah diberikan takkan pernah hilang. Hingga Pak Hasyim dengan tanpa rasa khawatir meminjamkan sertifikat rumahnya yang ada di Jalan A. Yani itu hingga memperoleh pinjaman sebesar Rp 100 juta. Untuk jumlah itu pada masa 70-an dan 80-an sangat besar.
Keberuntungan berikutnya adalah mendapat pasangan yang bersemangat untuk memajukan Persyarikatan. Meneer Hasyim menikah dengan RA (Raden Ayu) Subandiyah, putri seorang Wedono yang berasal dari Temanggung yang kebetulan bertugas di Kabupaten Kediri. Dari pasangan suami-istri Menner Hasyim dan RA Subandiyah Persyarikatan Muhammadiyah di Nganjuk semakain dikenal oleh masyarakat luas.
Untuk memajukan Ortom A’isyiayah Pak Hasyim melarang istrinya untuk bekerja. Hikmahnya sang istri atau Bu Hasyim dapat fokus membantu membantum suami untuk memajukan persyarikatan. Banyak gebrakan yang dilakukan pasangan suami istri ini untuk memajukan persyarikatan. Tanpa sengaja mereka berbagi peran. Bu Hasyim yang memliki ketrampilan membuat hiasan bunga, merias temanten dan ketrampilan lainnya sering berkumpul dengan Ibu-ibu yang sefaham, misalnya dengan Ibu Siti Rubingah, Ibu Sukiman, Ibu Zaituni dan lain-lain. Saat itu Bu Hasyim dan Ibu-ibu ‘Aisyiyah lainnya sudah mengadakan rapat sendiri-sendiri, sesekali memang mengadakan rapat bersama.
Pasangan suami istri Mohammad Hasyim dan RA Subandiyah ini boleh dikata suami istri yang ideal, cocok kedua pribadi mereka saling mengisi dan saling menguatkan, Bila sang suami begitu rela harta dan bendanya untuk Persyarikatan, maka sang istri tidak mau kalah. Dari infak pengajian Kamisan dan dari Seksi Ekonomi yang mempunyai bisnis jasa rias pengantin, semua diperuntuk keperluan ‘Aisyiyah Nganjuk.
Dari kolaborasi seorang enterpreneur, guru, dan istri yang berbakat seni pernah membuat dakwah Muhammadiyah/ ‘Aisyiyah menjadi sangat fenomenal karena atas kerja bareng suami – istri tersebut. Persyarikatan mampu menampilkan marching band pertama kali di Nganjuk. Tidak hanya sampai berhenti di situ, Ibu Hasyim yang mempunyai darah seni peduli pada generasi muda, menyediakan peralatan musik untuk dakwah di rumahnya. Dari situ dibentuk grup band Melamo (Melati Muhammadiyah) untuk seniornya, dan untuk remajanya dibentuk grup Band Fascho (Fastabikhul Khoirot). Lalu untuk NA (Nasyi’atul Aisyiyah) bagaimana? Untuk mereka pun juga disediakan alat musik lain, oleh Bu Hasyim yaitu dua set Angklung yang didatangkan dari Jogja bersama pelatihnya. Adapun yang ikut latihan angklung saat itu guru-guru TK, nama-nama yang tercatat antara lain Bu Djuminatun dan kakaknya.

Penulis : Panggih Riyadi dan Zainal Aqib

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7
Back to top button