Memburu Kebahagiaan Hidup Menurut Islam

Ustadz H.Abdul Kholiq, M.Pd.I
Kajian Ahad Pagi Fajar Mubarok
8 Desember 2024
Mengawali kajiannya Ustadz Kholiq menyebut ada 2 nikmat yang paling mahal kita punyai yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan. Ketika kita sehat dan punya waktu untuk aktivitas ibadah, aman kondisinya, serta miliki makanan untuk hari ini, maka kita pemilik dunia.
Untuk memburu kebahagiaan perlu ilmu.
Imam al Qordowi tidak membedakan ilmu agama dan ilmu umum. Tidak ada dikotomi atau pemisahan ilmu dan Islam. Beliau membesarkan 7 putranya dan putrinya memilih belajar ilmu umum ada yang ahli kimia, fisika nuklir, elektro modern kuliah luar negeri universitas Amerika dan satu putranya jurusan agama kuliah di univetsitas Darrul Ulum Mesir. Menurut Qordowi mengistilahkan sumber kebahagiaan itu disebut janatun ahlam artinya surga impian. Siapa pun, masing orang berhak untuk memburu kebahagiaan tanpa memandang status sosial, ekonomi, gender, ras, profesi, pendidikan dan lintas agama.
Memburu kebahagian banyak tantangan, ujian yg harus dilakukan dg sungguh-sungguh mencarinya, harus berjihad.
Tinggal di istana belum tentu bahagia, sementara yang tidur di lorong, emperan toko bisa jadi lebih bahagia. Istri Firaun Asiyah, tak bahagia di tengah gelimang harta, karena tetap beriman pada Allah, sementara Firaun mengaku dirinya tuhan. Ketika Firaun bertanya apakah istrinya, Asiyah bahagia di istananya yang mewah dijawabnya: “Anda belum bisa beri kebahagiaan padaku, yang bisa memberi bahagiaan hatiku sendiri, dan Tuhanku Allah yang memberikan kebahagiaan. Perumpaan kisah Firaun dan istrinya Aisiyah bisa dibaca pada QS. At-Tahrim 66: 11
KH Ahmad Dahlan pernah tinggal di Istana tidak krasan, ia lebih pilih langgar kidul sebagai habitatnya untuk betinteraksi dengan rakyat untuk mengajarkan nilai ajaran Islam. Dari sikap Ahmad Dahlan ini orang Muhammadiyah harus rajin ke masjid. Bahkan PP Muhammadiyah berharap Masjid dijadikan kantor persyarikatan untuk bermusyawarah, menyelesaikan masalah dan menggerakkan organisasi
P. Hajriyanto Y Thohari dalam bukunya orang-orang Muhammadiyah mengatakan, bahwa menurut Prof. Harsja W Bachtiar dosen sosiologi Universitas Indonesia, hasil penelitian menyebutkan ciri-ciri dan perilaku orang-orang Muhammadiyah itu dikenal sederhana, bersahaja, pekerja keras, suka nabung, filantropis, zuhud, dan dermawan. sampai-sampai kuburan pun tak boleh yang dikijing/ dibangun dan agar tdk ziarah kekubur seperti pesan ayahnya Prof Sutan Adam Bachtian. Prof. Malik Fajar mobilnya hanya suzuki tak pernah ganti. Di samping itu orang Muhammadiyah pekerja keras dan profesi apa Pun dijalani, Ustadz Kholiq pernah jualan minyak tanah, Pak AR, jualan bensin.
Apakah kebahagiaan hidup juga diperoleh dari melimpahnya harta. Hasil survey PBB melaporkan dari surveinya ada tiga negara maju seperti Swedia yang kaya, pengangguran dikasih jatah, banyak rakyatnya yang stres, angka bunuh diri tinggi. Negara maju yang lain seperti Amerika Serikat, semua rakyatnya dikasih uang, tapi kriminalitas tinggi angka bunuh diri juga sangat tinggi. Demikian pula Jepang, kasus sama dengan kedua negara di atas ditambah khamer. Kasuh bunuh diri di Jepang ada beberapa cara, antara lain terjun dari lantai yang tinggi dan tabrakan diri ke kereta api begitulah jika kebahagiaan itu hanya mementingkan bersifat materi. Dimana letak kebahagiaan dan apa bedanya kebahagiaan dengan kesenangan. Menurut Prof Ahmad Mubarrak kesenangan itu artinya terpenuhinya kebutuhan syahwat.
Kesenangan itu hanya di dunia sifatnya sementara seperti dalam firman Allah Alquran Surat Ali Imron: 14, yang artinya “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia , cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang menumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia yg bersifat sementara, dan di sisi Allah-lah tempat mereka kembali yang lebih baik.
Bahagia itu misteri dan subyektif. Orang yang sabar akan bahagia. Misalnya setelah 10 tahun baru dapat anak. Rasa bahagia akan muncul saat, Ayah menikahkan anaknya perempuan ada tangis bahagia, demikian pula saat Ibadah haji akan menangis, cium hajar aswad, nangis dihadapan baitullah ka’bah itu bahagia.
Terkait dengan Kebahagian yang pertama adalah bahagia karena anugerah Allah setelah berusaha kerja keras, penuh ujian, kesulitan dan tantangan, kebahagiaan akan diberikan setelah berusaha. Lelaki yang dapat mar’atusholihah (perempuan shalihah, beriman, paham kehidupan, tak kejar dunia dan bertakwa) akan berbahagia. Diberi anak yang sholeh adalah juga kebahagian.
Membangun lingkungan yan baik salah satu upaya untuk raih kebahagiaan. Demikian pula mencari rizki yang halal. Cari rizki yang halal sebaiknya di daerah/negerinya sendiri, ibaratnya “Hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri.
Beberapa hal harus diikhtiarkan untuk bahagia punya tetangga yang baik, miliki rumah “yang luas” dan kendaraan yang baik.
Yang kedua kebahagiaan yang dicari seperti mendapati iman/Islam, shalat khusyuk dan irit bicara/bicara seperlunya, berzakat, menjaga amanah dan memenuhi janji. Maka Allah menurunkan keberuntungan /kebahagiaan seperti firman- Nya dalam Quran surat Ash Shaf 10-13.
Dua faktor penting untuk memburu kebahagiaan hidup.
Pertama: Faktor dominantif/penentu: sakinatul qalbi (ketenangan hati) Q. S. Al-Fath 48:4 dan ketentraman hati Q. S. Ara’du 28.
Kedua: faktor penunjang seperti pengetahuan, kesehatan, harta, kedudukan, istri, anak. Para pemburu kebahagiaan hidup akan mendapatkannya dengan ikhtiar sungguh-sungguh dan istiqomah serta tawakkal kedua faktor tersebut dilakukan secara bersama-sama dan integral.
Semoga kita mendapatkannya. Aamiin ya rabbal’alamin.
Penulis : Panggih Riyadi