Muhammadiyah Nganjuk Akan Bermitra Dengan USAID Amerika Serikat

Berdasarkan paparan pendampingan ILP (Integrasi Pelayanan Primer) yang dilaksanakan kemarin Jumat, 20/12/2024 di Ruang Madina Lt.2 RSI Aisyiyah Nganjuk, Dr.dr. Ekorini Listiowati, menyatakan bahwa Majelis Pembinaan Kesehatan Umum PP Muhammadiyah memiliki program yang memadai di bidang pengembangan kesehatan di masa depan yaitu : 1. Pengembangan RS (Rumah sakit), 2. Pengembangan klinik, 3. Kesehatan Masyarakat, 4. Kerja sama, 5. Hukum dan advokasi, dan 6. Pengembangan Sumber Insan Kesehatan.

Mitra Pelaksana
Dari enam poin di atas, menurut Dr.dr. Ekorini Listiowati, MMR, Sekretaris MPKU PP Muhammadiyah poin keempat sangat penting yaitu menjalin kerja sama dengan semua pihak termasuk lembaga dari luar negeri. Karena Muhammadiyah sudah melakukan internasionalisasi maka sudah banyak dikenal oleh berbagai lembaga di luar negeri. Maka USAID mengajak bermitra di bidang penanganan kesehatan dengan MPKU PP Muhammadiyah dan Kementerian Kesehatan. Dari sini terbentuklah lembaga bernama USAID-Mentari PHC (Primary Health Care) dengan Mitra Pelaksana, Majelis Pembinaan Kesehatan Umum PP Muhammadiyah.

Miliki Jejaring RS Terbanyak & Terluas
Muhammdiyah miliki jejaring RS paling banyak dan luas di Indonesia tak ada yang dapat menandingi. Hinga tidak mengherankan jika dalam waktu singkat Muhammadiyah mampu menyediakan 40 rumah sakit untuk membantu pemerintah dalam penanganan pandemi Covid 19 pada tahun 2019. Bukan hanya membantu menyediakan ruang tapi termasuk talangan uang untuk pendanaan vaksin dan obat untuk para pasien.

Secara gambaran kasar, di 17 provinsi Muhammadiyah memiliki 127 RS dengan 12.792 (dua belas ribu tujuh ratus sembilan puluh dua) tempat tidur. Berikut sebaran rumah sakit di 17 provinsi dengan urutan yang punya paling banyak RS yaitu : 1) Jateng 51 RS, 5849tt; (tempat tidur), 2) Jatim 37 RS, 3757tt; 3) DIY 10 RS, 932tt; 4) DKI Jakarta 5 RS, 827tt; 5) Jabar 5 RS, 221tt; 6) Sulsel 3 RS, 104; 7) NTB 2 RS, 155tt; 8) Sumbagsel 2 RS, 110tt; 9) Sumbar 2 RS, 100tt; 10) Lampung 1 RS, 199tt; 11) Kalsel 1 RS, 109tt; 12) Kalteng 1 RS, 102tt; 13) Gorontalo 1 RS, 68tt, 14) Sumut 1 RS, 62tt; 15) Banten 1 RS, 50tt, 16) Maluku Utara 1 RS, 50tt; dan 17) Kaltim 1 RS, 37.

Bukan hanya itu untuk unit pelayanan kesehatan yang lebih kecil Muhammadiyah – Aisyiah memiliki 238 klinik di 20 provinsi dengan sebaran sebagai berikut: (1) Jatim 76, (2) Jateng 48, (3) Jabar 20, (4) DIY 16, (5) Sumbagsel :10 buah, (6) Sulsel 9, (7) Jambi 7, (8) NTB 7, (9) Kalbar 5, (10) Aceh 4, (11) Sulut 4, (12) Riau 3, (13) Lampung 3, (14) Banten 3, (15) Kalteng 3, (16) DKI 3, (17) Sumbar 2, (18) Kalsel 2, (19) Sumut 1, dan (20) Sulteng 1.

Dalam program ILP USAID-Mentari PHC periodenya dimulai Februari 2024 s.d. Februari 2029. Untuk 2024 Wilayah Intervensi USAID-Mentari PHC sudah dimulai meliputi 2 propinsi yaitu Jatim dengan tiga kabupaten yaitu Lamongan, Lumajang, dan Blitar; dan Sulawesi Selatan dengan 2 kabupaten yaitu Enrekang dan Sidrap.
Untuk tahun 2025 Jatim 7 kabupaten yaitu: Ngawi, Nganjuk, Madiun, Tulungagung, Probolinggo, Gresik dan Sumenep. Sedang Sulsel 3 kabupaten yaitu, Takalar, Sinjai dan Bantaeng.

Kegiatan dalam Pendampingan ILP
Kegiatan awal dalam pendampingan dan penguatan ILP oleh USAID-Mentari PHC cukup beragam antara lain: Pelatihan Comunity Organizer (penggerak masyarakat, Pelatihan Advokasi terhadap kebijakan setempat, Mini Lokakarya di tingkat kecamatan, dan Pendampingan kesehatan. Kegiatan di atas harusnya dapat dimasuki oleh kader persyarikatan misalnya IPM, NA, dan Ortom.

Penulis : Panggih Riyadi

Tulisan Terkait

Back to top button