Refleksi Ramadan 1446 H: Memaknai Hakikat Ibadah Sesungguhnya

Marhaban ya Ramadan. Alhamdulillah kita masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadan di tahun 2025 ini. Segala amalan dan perbuatan baik yang dilakukan di bulan yang penuh berkah ini, Allah akan melipatgandakan pahala bagi orang- orang yang menjalankannya dengan penuh keikhlasan. Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga waktu terbaik untuk merenung dan memperkuat keimanan. Di dalamnya, setiap Muslim diberikan kesempatan untuk kembali ke fitrah, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah SWT.

Namun, sudahkah kita benar-benar menjadikan Ramadan sebagai titik perubahan, atau hanya sekadar menjalani rutinitas ibadah tanpa makna mendalam?Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan untuk menahan hawa nafsu serta menyadari kekurangan diri. Ramadan mengajarkan kita untuk intropeksi dengan menilai kembali sejauh mana ibadah kita dilakukan dengan keikhlasan, sejauh mana hati kita bersih dari iri dan dengki, serta sejauh mana kita telah memperbaiki hubungan dengan sesama.

Sayangnya, banyak yang hanya menjadikan Ramadan sebagai serangkaian ibadah formalitas. Puasa dijalani tanpa perubahan sikap, sholat tarawih dilakukan tanpa penghayatan, dan tilawah Al-Quran sekadar mengejar jumlah halaman. Jika Ramadan berlalu tanpa adanya perbaikan dalam diri, kita perlu bertanya: Apakah kita benar-benar memanfaatkan bulan suci ini dengan baik atau tidak?.

Keimanan yang hakiki tidak hanya tercermin dari seberapa banyak ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari bagaimana ibadah tersebut mengubah perilaku kita sepenuhnya. Orang yang imannya semakin kuat akan menjadi lebih sabar, rendah hati, dan penuh kasih terhadap sesama. Namun, realitasnya masih banyak yang rajin beribadah di bulan Ramadan, tetapi tetap lalai dalam hak-hak sosialnya. Ada yang berpuasa tetapi masih mudah marah, menyimpan rasa dengki, iri dan suka menghibah kepada sesama, ada yang membaca Al-Quran tetapi lisannya tetap melukai hati orang lain. Inilah tantangan sejati dalam menghidupkan keimanan untuk memastikan bahwa ibadah yang kita lakukan benar-benar berdampak pada akhlak dan keseharian kita.

Menghidupkan Ramadan dengan Kesadaran Penuh

Agar Ramadan benar-benar menjadi bulan perubahan, kita harus menjalaninya dengan kesadaran spiritual. Bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari amarah dan keburukan. Tilawah Al-Quran harus lebih dari sekadar bacaan, tetapi menjadi pedoman dalam hidup. Selain itu, Ramadan juga mengajarkan tentang pentingnya hubungan sosial. Memaafkan, berbagi kepada orang yang membutuhkan, dan mempererat silaturahmi adalah bentuk nyata dari keimanan

Ramadan sebagai Awal, Bukan Akhir Perubahan

Semangat ibadah di bulan Ramadan seharusnya tidak berhenti setelah Syawal tiba. Jika kita kembali pada kebiasaan lama setelah Ramadan berakhir, maka kita telah kehilangan esensi bulan suci ini. Ramadan adalah momentum pembentukan karakter, bukan sekadar ritual tahunan yang berlalu begitu saja. Mari jadikan Ramadhan 1446 H sebagai titik balik dalam kehidupan kita. Bukan hanya untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat dengan Allah SWT. Sebab pada akhirnya, Ramadan bukan tentang menahan lapar semata, tetapi tentang bagaimana kita memahami hakikat hidup dan keimanan yang sejati. Wallahu a’lam bishawab.

Penulis: Septi Sartika (Anggota Majelis Pustaka Informasi dan Digitalisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Nganjuk)

Back to top button