Bukan Sekadar Wacana: Aksi Nyata Muhammadiyah melalui Lazismu Kembali Menyapa Ngluyu
NGANJUK — Terik matahari di Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk, belakangan ini bukan lagi sekadar panas biasa. Kekeringan yang berkepanjangan telah membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih, terutama mereka yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan sumber air setempat. Di tengah kondisi itu, Muhammadiyah Kabupaten Nganjuk melalui Lazismu Berbagi kembali turun tangan. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, sebanyak 16.000 liter air bersih didistribusikan ke dua desa terdampak, Desa Lengkonglor dan Desa Tempuran, yang tersebar di 12 titik distribusi.
Misi kemanusiaan ini tidak berjalan sendiri. Lazismu Nganjuk bergandengan tangan dengan KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) dan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center), dua sayap organisasi yang dikenal responsif dalam penanganan bencana. Pendistribusian air bersih dipandu langsung oleh Bapak Alexsandro Ribut Pradana, S.Pd., salah satu kader Muhammadiyah yang berdomisili di Ngluyu. Kehadirannya bukan sekadar koordinasi teknis, melainkan simbol bahwa kader Muhammadiyah adalah bagian tak terpisahkan dari denyut nadi masyarakat akar rumput.
Aksi ini merupakan perwujudan nilai ta’awun saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Nilai ini menjadi fondasi gerakan Muhammadiyah sejak didirikan: bahwa iman tidak cukup diyakini, tetapi harus dibuktikan melalui kerja nyata bagi sesama. Semangat berkhidmat kepada masyarakat (al-khidmah al-ijtima’iyyah) inilah yang mendorong Lazismu, KOKAM, dan MDMC turun langsung ke lapangan, bukan menunggu diminta.

Begitu armada pengangkut air tiba, suasana langsung berubah riuh. Warga berduyun-duyun menghampiri titik distribusi dengan semangat membara. Tawa anak-anak, sorak-sorai warga, dan celoteh penuh syukur terdengar saling bersahutan. Ember, jeriken, dan drum berjejer rapi, sementara wajah-wajah warga memancarkan rasa syukur yang tak terbendung. Di Desa Lengkonglor, Kepala Dusun Guritan turut mendampingi langsung proses distribusi, memastikan setiap tetes air sampai ke tangan yang membutuhkan.
Yang menarik, kepedulian dalam kegiatan ini tidak mengenal sekat identitas. Selain itu, bantuan air bersih turut disalurkan ke salah satu gereja yang berada di wilayah Kecamatan Ngluyu. Langkah ini menjadi simbol bahwa kemanusiaan adalah bahasa universal yang melampaui batas agama dan keyakinan yang sejalan dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin, bahwa misi kemanusiaan Muhammadiyah adalah untuk seluruh umat, tanpa terkecuali. Di sinilah nilai toleransi dan keadilan sosial (al-‘adalah al-ijtima’iyyah) diuji dan dibuktikan, bahwa kepedulian tidak boleh berhenti pada golongan sendiri, melainkan menjangkau siapa pun yang membutuhkan, sebagaimana teladan Nabi Muhammad SAW yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Kehadiran para pemimpin organisasi turut memperkuat makna kegiatan ini. Wakil Ketua PDM Nganjuk, Bapak Andik Joko Santoso, S.Pd., serta Ketua Lazismu Nganjuk, Bapak Mijan, S.H., hadir mendampingi langsung di lokasi. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas seremonial, melainkan wujud nyata bahwa kepedulian adalah tanggung jawab bersama yang tidak bisa diwakilkan. Dalam filsafat sosial Islam, tindakan semacam ini mencerminkan prinsip hablun min al-nas yaitu hubungan antar manusia yang harus dirawat melalui aksi nyata, bukan sekadar retorika. Nilai amanah dan tanggung jawab (al-mas’uliyyah) tercermin dari kesediaan para pemimpin untuk hadir langsung, bukan hanya menginstruksikan dari belakang meja.
Proses distribusi berlangsung sejak sebelum matahari tenggelam hingga rembulan mulai menyinari langit Kecamatan Ngluyu. Rentang waktu itu bukan sekadar catatan kronologis, melainkan metafora tentang kesinambungan pengabdian, dari terang menuju gelap, dari siang menuju malam, Muhammadiyah tetap hadir. Semangat istiqamah serta konsisten dalam kebaikan menjadi ruh yang menjaga gerakan ini agar tidak berhenti pada satu momentum, melainkan berlanjut sebagai komitmen jangka panjang. Dalam perspektif akademik, fenomena ini dapat dibaca sebagai bentuk social resilience ketahanan sosial yang dibangun melalui jejaring organisasi masyarakat sipil yang adaptif terhadap krisis lingkungan.
Kekeringan di Kecamatan Ngluyu memang bukan persoalan baru. Secara geografis, wilayah ini memiliki karakteristik tanah yang cepat melepaskan air, sehingga musim kemarau selalu menjadi momok bagi warga. Namun, di balik keterbatasan alam, ada kekuatan sosial yang terus dirawat. Lazismu Nganjuk, KOKAM, dan MDMC bukan sekadar organisasi distribusi bantuan; mereka adalah simpul-simpul modal sosial (social capital) yang menghubungkan donatur, relawan, dan penerima manfaat dalam satu ekosistem kepedulian. Nilai gotong royong dan kolektivitas (al-‘amal al-jama’i) menjadi perekat yang membuat ekosistem ini tetap hidup dan bergerak.
Dalam narasi yang lebih filosofis, air bukan sekadar benda material. Ia adalah sumber kehidupan, simbol kemurnian, dan dalam banyak tradisi spiritual, representasi dari rahmat yang mengalir. Ketika 16.000 liter air bersih disalurkan ke 12 titik di dua desa serta satu gereja, sesungguhnya yang sedang dipraktikkan bukan sekadar distribusi logistik, melainkan teologi sosial: bahwa iman yang benar akan berbuah dalam amal yang nyata. Muhammadiyah, melalui Lazismu, KOKAM, dan MDMC, telah menunjukkan bahwa al-‘amal al-shalih (amal saleh) tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma dalam tindakan penyelamatan kehidupan. Inilah wujud nilai fastabiqul khairat berlomba-lomba dalam kebaikan yang menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah: tidak menunggu, tidak berdebat, tetapi bergerak lebih dahulu untuk menolong.
Kegiatan ini juga menjadi cermin bahwa penanganan bencana kekeringan tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi lintas lembaga, partisipasi kader lokal, dan dukungan pemimpin organisasi yang hadir secara langsung. Dalam kerangka kebijakan publik, apa yang dilakukan Muhammadiyah Nganjuk ini dapat dibaca sebagai bentuk co-production of public service di mana negara, masyarakat sipil, dan komunitas lokal bahu-membahu mengisi ruang yang tidak selalu mampu dijangkau oleh mekanisme formal. Nilai profesionalisme dan kolaborasi (al-ittihad) menjadi kunci agar gerakan kemanusiaan ini tidak berjalan sendiri, melainkan bersinergi dengan berbagai pihak.

Saat rembulan mulai menyinari langit Ngluyu, distribusi air bersih pun berakhir. Namun, jejak kepedulian itu tidak ikut padam bersama senja. Ia mengendap dalam ingatan warga, mengalir dalam doa-doa yang tak terucap, dan menjadi bukti bahwa di tanah yang kering, masih ada tangan-tangan yang menadah dan hati-hati yang mengalirkan kehidupan. Muhammadiyah Nganjuk telah menunaikan tugasnya: bukan sekadar mengirim air, tetapi merawat harapan sebuah amal yang berpijak pada nilai-nilai keikhlasan (al-ikhlas), kemanfaatan (al-manfa’ah), dan pengabdian (al-khidmah) kepada umat dan kemanusiaan.
Penulis: Rahmat Solekan