Prof. Muhadjir Effendy : Menghadirkan Islam Rahmatan lil’alamin dalam Kehidupan

Muhammadiyah terlalu lama meninggalkan ekonomi. Padahal dulu pimpinan Muhammadiyah itu pedagang. Kyai Ahmad Dahlan dulu berdakwah sambil berdagang batik dan polowijo. Tapi kini pimpinan Muhammadiyah itu kebanyakan birokrat. Sedikit menyinggung tentang pendidikan, dia menyatakan bahwa dulu Pak Suharto (mantan Presiden kedua RI) tak punya ijazah SMP (MULO) Muhammadiyah karena waktu kelas 3 keluar daftar di Pendidikan Militer.
Kini kader Muhammadiyah yang berijazah banyak menjadi birokrat. Oleh sebab itu saatnya sekarang Muhammadiyah harus membangkitkan ekonomi sebagai pilar ketiga setelah pendidikan dan kesehatan. Untuk itu pada pengajian, rapat pimpinan di segala tingkatan topik ekonomi hendaknya dikedepankan. Dalam forum seperti itu wajib ada pemaparan masalah ekonomi tentang program dan tindakan. Karena itu di otak pendakwah harus berisi 50% materi ekonomi 50% materi dakwah agama. Bahkan dalam rapat-rapat wajib ada pembicsraan ekonomi.
Muhammadiyah itu terbuka. Zuhri Dahlan, putra dari istri kedua Kyai Dahlan dikirim ke Pakistan untuk belajar dan di sana Zuhri dahlan dari istri kedua, dikirim ke Pakistan untuk belajar dan di sana berinteraksi dengan Ahmadiyah yang tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi (Ahmadiyah ada 2, yang satu dari Lahore, menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi). Maka dari itu posisi Sekretaris I PP Muhammadiyah pernah diisi orang Ahmadiyah.
Jadi orang Muhammadiyah jangan kaku tapi tegas terhadap gerakan atheisme. Muhammadiyah ikut membidani lahirnya Sekber Golkar. Maka dengan nada guyon, ingatkan Bahlil, Jangan macam-macam dengan Muhammdiyah. Pak Suharto, mantan presiden kedua RI itu kader Muhammadiyah maka saat masih aktif di TNI AD beliau sangat anti PKI.
Orang Muhammadiyah harus sebarkan aura positif. Jangan suka membuli bila dibuli jangan dibalas.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَعِبَا دُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَ رْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَا طَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَا لُوْا سَلٰمًا
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “salam,” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 63)
Tauhid menjadi kekuatan Muhammadiyah dan Muhammadiyah tak boleh berhenti menebarkan kebaikan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَاِ ذَا فَرَغْتَ فَا نْصَبْ
“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),”
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 7)
وَاِ لٰى رَبِّكَ فَا رْغَبْ
“dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 8)
Dua langkah kembangkan ekonomi. Yang pertama mengembangkan industri yang pasti laku. Mengembangkan produk di bidang kesehatan yaitu cairan infus.
Sekarang masih nebeng, tapi tahun 2026 ini sudah mulai bangun pabrik sendiri. Tak ada problem kapitalisasi. Untuk produksinya dan produk obat, dipakai sudah ada pasar jelas yaitu 70 rumah sakit.
Mului tahun 2026 ini juga bangun pabrik
prabik jarum, kerja sama dengan perusahaan lain.
Yang kedua di bidang retail UMKM harus punya jaringan. Pasarnya ada, tinggal buat gerai kecil dengan modal awal 350 juta. Untuk gerai bila perlu manfaatkan kantor PDM/PCM untuk dagang.
Muhammadiyah terlalu lama tak punya hutang. Oleh sebab itu jangan takut hutang
Hutang ke Bank Syariah Indonesia tapi BSI harus mengajari bisnisnya. Kita tiru Nabi, Nabi itu bisnisnya kuat. Jika Muhammadiyah ekonomi kuat, maka Muhammadiyah dapat menebarkan Islam
rahmatan lil alamin, karena punya “social capital”, kaya untuk umat.
Mengakhiri paparannya Prof Muhajir menyarankan agar Muhammadiyah dan ‘Aisyiah punya dapur MBG sendiri, karena dari sini dapat menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi warga. Jangan mengharap CSR dari perusahaan, karena CSR perusahaan untuk kelompoknya sendiri. Misalnya perusahaan – perusahaan itu buat yayasan kemudian mendirikan sekolah atau rumah sakit didanai dari CSR.
Penulis : Panggih Riyadi




