Ahmad Hasyim : “Wong Bejo” Yang Penyabar Dan Penyantun

Pernah Dituduh Provokator dan Sempat Ditahan di Markas Kodim Nganjuk
Berdasarkan penuturan Mas Blig, putra sulung Ahmad Hasyim yang sempat Kuliah diAustralia pada tahun 1970-an, pada tahun 1960-an hiburan yang disukai masyarakat adalah pasar malam. Tempat satu-satunya yang cocok adalah alun-alun. Hampir semua macam hiburan rakyat ada di sana. Termasuk panggung pertunjukan teater tradisional misalnya Ketoprak, Wayang Orang, dan Ludruk. Tempat pertunjukan itu disebut tobong. Bangunan yang berbetuk persegi panjang itu sekelilngnya ditutup dengan bedek, atau anyaman bambu. Atapnya terbuat dari daun tebu yang dianyam dengan bambu.
Tempat pemainan dan hiburan untuk pengunjung cukup banyak, hingga pengadaannya sampai meluas ke Jln. A. Yani. Salah satu permainan yang dapat digolongkan judi diadakan di Jln. A. Yani juga. Kebetulan salah satu permainan judi diadakan persis di depan toko Ahmad Hasyim. Akhirnya beliau protes ke Pemda agar permainan judi itu dipindah atau ditiadakan.
Akibat protes agar tidak ada permainan judi di arena pasar malam, maka ketika terjadi kebakaran di tempat pertunjukan teater tradisional, yang atapnya terbuat dari daun tebu yang mudah terbakar itu, Ahmad Hasyim langsung dituduh, bahwa beliaulah yang menjadi provokator untuk membakar tempat pertunjukan tersebut. Tanpa ada pemeriksaan Ahmad Hasyim langsung di tahan di Markas Kodim Nganjuk.

Jadi Target Saat Terjadi Pemberontakan G.30 S PKI di Nganjuk
Pada saat pemberontskssn G.30 S PKI, seorang Ahmad Hasyim juga jadi target PKI. Suatu saat di pagi hari di rumahnya ditemukan tanda silang htam. di tembok rumahnya. Artinya, Ahmad Hasyim menjadi target pembunuhan. Maka tanda silang hitam itu segera dihilang dengan tiner oleh putra-putranya. Tapi keesokan harinya ada tanda silang lagi tapi warnanya berwarna merah.
Pada saat itu berlaku jam malam. Artinya, setelah salatIsya’ seluruh aliran listrik dimatikan di seluruh wilayah kota. Untungnya rumah bagian belakang milik Ahmad Hasyim jadi Posko Anti Komunis. Di situ berkumpul anggota Front Pancasila yang terdiri atas Pemuda Muhammadiyah, PII (Pelajar Islam Indonesia), dan Pemuda sabilul Mutakin. Saat habis Isya, ada tetangga yang bekerja di Rumah tahanan atau penjara, yang jelas-jelas ia adalah PKI dating ke rumah Ahmad Hasyim di bagian belakang dan bertanya pada Bu Hasyim, dengan bahasa Jawa: “Pak Hasyim tindak?” (Pak Hasyim Pergi?), Dijawab Bu Hasyim, “Miyos” (Keluar). Setelah mendapat jawaban itu tetangga yang bertamu itu pergi. Padahal Pak Hasyim sedang di rmah bagian depan bersama Narasumber (Dra Sulistyowa) sedang stel radio transistor.
Naluri sebagai seorang istri memberi sinyal suaminya dalam bahaya. Suaminya yang sudah menjadi target itu bila keluar akan disanggong (dicegat) dan pasti dibunuh. Hampir semalaman sang istri menangis dan berdoa semoga suaminya tidak keluar mala m itu. Maka keesokan harinya ketika putrinya menemunya di kamar sangat kaget, karena wajahnya berubah pucat pasi, matanya “cowong” masuk ke dalam. Pengorbanan tidak tidur semalam, Alhamdulillah suaminya selamat karena tidak keluar rumah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7Laman berikutnya
Back to top button