Ahmad Hasyim : “Wong Bejo” Yang Penyabar Dan Penyantun

Yang lebih mengejutkan lagi, ketika putrinya yang sudah lulus SAA Jogjakarta dengan pretasi peringkat 1 itu tidak diterima ketika melamar sebagai apoteker di apotek yang dipersiapkan untuk dirinya tersebut. Ternyata pihak yang menyewa ternyata sudah mempunyai apoteker sendiri. Ini yang paling mengejutkan, ternyata apoteker tersebut adalah teman satu sekolah dengan Apoteker putri Ahmad Hasyim. Cuma apoteker tersebut prestasinya tidak baik atau dinyatakan tidak lulus. Kata putri Ahmad Hasyim Dra Sulistryowati ini ada hikmahnya. Dengan lamarannya ditolak di apotek yang buka di rumahnya sendiri akhirnya ia lanjut kuliah di IKIP Malang memilih jurusan Pendidikan Kimia. Dengan demikian beliau dapat pensiun, karena setelah lulus IKIP Malang mengajar di SMA Negeri 2 Nganjuk hingga purna tugas.
Kasus berikut ini menguatkan bahwa Ahmad Hasyim memang orang yang sabar. Pada tahun 1960-an hingga 1970-an. Ahmad Hasyim satu-satunya agen STANVAC (Pertamina sekarang) hingga beliau diberikan ijin membuka Pom Bensin di Nganjuk, tempatnya di sebelah timur terminal lama Nganjuk persisnya di sebelah barat perempatan. Perempatan itu ke arah utara menuju ke Kecamatan Gondang/ Kabpaten Bojonegoro, ke timur ke Kecamatan Kertosono/ Surabaya, ke Selatan ke Kediri dan ke barat ke Madiun/ Solo. Jadi tempatnya sangat strategis. Namun lagi-lagi keberuntungan ini di iri pihak lain.
Berdasarkan penjelasan narasumber, ada dua hal yang menyebabkannya. Yang pertama dari Pemda Nganjuk. dengan adanya peraturan bahwa di Kawasan Perkotaan tidak boleh ada Pom Bensin, atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar. Dengan dalih itu maka Pom Bensin harus dipindahkan. Dan anehnya pihak Pemda tidak memberi kompensasi atau ganti rugi apapun pada Ahmad Hasyim. Padahal Ahmad Hasyim harus membongkar seluruh bangunan dan harus mengeluarkan tanki penyimpanan bahan bakar di bawah tanah, dan harus mencari tanah sewaan sementara untuk menyimpan tanki dan peralatan pom lainnya. Dan yang kedua, masalah ini termasuk dalam ungkapan sekarang “ngeri-ngeri sedap” adalah, ada sentimen kelompok yang ditujukan kepada Ahmad Hasyim. Menurut penjelasan narasumber, karena Ahmad Hasyim itu orang Muhammadiyah yang dianggap atau identik dengan Masyumi, sedangkan Bupatinya orang nasionalis. Maka perkembangan usaha Ahmad Hasyim harus dihambat. Begitulah kira-kira sebabnya.