Ahmad Hasyim : “Wong Bejo” Yang Penyabar Dan Penyantun

Wong Bejo (Orang Beruntung) 1
Mohammad Hasyim anak ketiga dari empat bersaudara, dilahirkan pada tahun 1914 di Desa Cepoko, Kecamatan Berbek Kabupaten Nganjuk, kurang lebih 15 Km dari pusat kota yang terletak di Lereng Gunung Wilis ini disebut wong bejo. Meski berasal dari keluarga pedesaan Mohammad Hasyim sempat mengecap pendidikan HIK pada Zaman Penjajahan Belanda dan IKIP pada masa kemerdekaan. Hingga di desanya dan di Nganjuk sehari-hari dipanggil meneer Hasyim.
Saat menjadi guru pada Zaman Penjajahan Jepang ada tawaran untuk mencari tikar pandan sebanyak 500 lembar. Tikar pandan itu untuk membungkus sutra. Keuntungan yang diperoleh dari bisnis itu sama dengan gaji guru setahun. Pesanan itu makin lama makin meningkat. Hingga puncaknya harus mencarter tiga gerbong Kereta Api untuk mengangkut pesanan tikar tersebut. Dari hasil perniagaan itu Mohammadi Hasyim mendapatkan keuntungan yang sangat banyak, digambarkan oleh putrinya yang bernama Hj. Sulistyowati, S.Pd., sebagai berikut. Saat menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 keuntungan yang diperoleh dari usaha itu uangnya sangat banyak, satu becak. Dari hasil perniagaan itu Meneer Hasyim dapat membeli sebuah toko di Pecinan, yang terletak di Jalan Ahmad Yani no. 62 Nganjuk, kurang lebih 100 meter di sebelah selatan Alon-alon Nganjuk (sekarang Toko Fantastik). Sedang rumah asli Meneer Hasyim berada di Jalan Gondowardoyo, bersebelahan dengan saudaranya Lik Marno tokoh legendaris HW Nganjuk.
Wong Bejo (Orang Beruntung) 2, Guru itu harus pintar
Keberuntungan nampaknya terus mengiringi karir dan perjalanan Meneer Hasyim, seperti penuturan putri beliau sebagai berikut: “Sungguh Bejo sekali nasib Pak Hasyim sehingga melejit karirnya sampai menjadi anggota utusan Nganjuk dan juga harta kekayaannya masa itu smakin meningkat”. Semua itu berkat kepintaran dan pergaulannya yang luas seorang Meneer Hasyim, seperti penuturan Putri beliau: “Guru memang harus serba bisa. Dan jadi guru itu harus orang pintar.