Spiritual Ibadah Qurban

Ustadz Dr. H. Piet Hizbullah Khaidir, M.A.
(Sekretaris PDM Lamongan)
Sebelum menyampaikan inti kajian Ustadz Piet memaparkan sejenak tentang KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal) dengan tujuan agar warga Muhammadiyah menerima dengan yakin KHGT. Karena KHGT sudah ditanfidkan oleh Majelis Tarjih. Hal yang sudah Ditanfidkan menjadi fardu ain bagi individu. Metode KHGT untuk penentuan akhir dan awal bulan menggunakan wujudul hilal bil hisab. Jika hilal sudah terlihat secara hitungan astronomis berapa derajat pun dan di belahan dunia mana pun matlaknya maka sudah dipastikan sudah masuk bulan baru. Contoh, Ijtima’ Ramadhan kemarin terdapat di dua matlak yaitu di Alaska dan Maroko. Terkait dengan puasa Arofah (9 Dzulhijah) jatuh pada tanggal 26 Mei 2026.
Tingkatan Hukum
Ada 3 tingkatan hukum dalam Majelis Tarjih. Yang pertama tingkatan wacana, yaitu masih berupa pendapat/pandangan ulama belum dibahas. Yang kedua fatwa, yaitu sudah dibahas tapi belum diputuskan. Contoh, merokok.karena belum diputuskan ada wargaMu yang merokok karena dianggap mubah. Yang ketiga adalah Putusan Tarjih. Kalau sudah sampai tingkat ini sudah jadi fardhu ain, termasuk KHGT. Juga termasuk penyembelehan dam hewan qurban bisa dilaksanakan di luar tanah haram.
Spiritualitas Idhul Adha.
Spiritualitas syariat harus berdampak sosial. Orang kaya harus menolong orang miskin. Agar tidak ada dugaan orang kaya tapi pelit, maka disyariatkan dalam berqurban wajib menyebutkan nama yang berqurban. Ini berbeda dengan sedekah. Sedekah bisa dilakukan secara sembunyi. Secara syariah hewan qurban disebut: 1) unta, 2) sapi, 3) kerbau, dan 4) kuda. Di luar itu tidak boleh.
Spiritualitas Qurban
Spiritualitas qurban memiliki 3 makna: yang pertama bermakna taqorub (mendekatkan diri pada Allah). Yang kedua bermakna takwa dengan empat dimensi: 1) ke atas, pada Allah, 2) kepada diri sendiri, 3) kita dengan keluarga, dan 4) kita dengan tetangga dan di mana pun kita berada, yang ketiga bermakna rizki yang tampak maupun yang tidak nampak.
Rizki yang nampak misalnya uang dan harta benda lainnya. Rizki yang taknampak misalnya kesehatan, jabatan, bisa lapang hati, tak gampang alergi dsb. Di samping dua macam rizki di atas menurut Ustadz Piet ada rizki ghairu hakiki misalnya dapat uang malah bingung / susah, dapat jabatan bertambah susah.
Menutup kajian ini Beliau menyampaikan ada nikmat/rizki positif a.l.: 1) terkait dengan keislaman yaitu, rajin salat berjamaah, dekat dengan al Quran, mampu menjaga lisan, 2) secara sosial ialah: loman, dekat dengan kerabat, baik dengan semua makhluq.
Penulis : Panggih Riyadi



