Di Bawah Lereng Wilis, 80 Kader Kokam Ditempa Kedisiplinan dan Semangat Pengabdian ala dr. Soetomo

Nganjuk, 23 Juni 2026 – Semilir angin sejuk khas lereng Gunung Wilis menyelimuti Monumen dr. Soetomo, Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Selasa pagi. Di tempat yang sarat nilai sejarah perjuangan ini, suasana khidmat begitu terasa. Tepat pukul 09.00 WIB, derap langkah 80 kader Kokam dari berbagai penjuru Kabupaten Nganjuk mengawali rangkaian Pendidikan dan Latihan (Diklat) Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Search and Rescue (SAR), sebuah ikhtiar menempa diri menjadi relawan kemanusiaan yang tangguh.

Kegiatan yang digagas oleh Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Nganjuk ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan juga penggemblengan mental dan ideologis. Di hadapan para peserta yang berpakaian loreng kebanggaan, semangat para pahlawan seolah dihidupkan kembali untuk menjadi kompas perjuangan.

Spirit Dr. Soetomo, Marsinah, dan Sumayyah sebagai Pondasi

Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Najih Prastiyo, S.H.I., M.H., dengan lantang menekankan pentingnya meneladani para tokoh. Ia mengingatkan bahwa tempat berpijak para peserta saat ini adalah tanah kelahiran dr. Soetomo.

“dr. Soetomo lahir di Nganjuk. Ia adalah seorang dokter yang memilih menggunakan keahliannya bukan untuk menumpuk kekayaan pribadi, melainkan untuk memperjuangkan kesetaraan dan melawan penindasan. Semangat saling memanusiakan dan memerdekakan inilah yang harus menjadi inspirasi dan landasan perjuangan Kokam,” tegasnya, disambut anggukan penuh keyakinan para peserta.

Tak hanya itu, Najih Prastiyo juga menyandingkan keteguhan Marsinah, pahlawan buruh perempuan asal Nganjuk, dengan kegigihan Sumayyah dalam sejarah Islam. “Keduanya adalah simbol keberanian melawan ketidakadilan. Mereka menolak tawaran kenyamanan demi membela hak yang benar. Di era yang serba nyaman ini, kalian, para kader Kokam, harus menanamkan kembali semangat pengabdian itu, menjaga Muhammadiyah dan nilai-nilai agama,” ucapnya, membakar semangat.

Mengutip Sayyidina Ali, ia menutup pesannya, “Pemuda sejati adalah mereka yang bangga dengan identitas dan kemampuan diri sendiri, bukan sekadar membanggakan leluhur atau orang tua.”

Seragam Loreng Itu Amanah, Bukan Gaya-gayaan

Suasana hening nan fokus menyelimuti area monumen ketika Muhammad Maji, S.Pd., Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Nganjuk, menyampaikan pesan tegas. Di tengah sejuknya udara pagi yang mulai terusik kabut tipis, ia menyentil esensi dari pakaian yang dikenakan para peserta.

“Saya tahu, kita kerap diremehkan atau dianggap hanya bermain tentara-tentaraan. Tapi dengarkan, anggota Kokam telah membuktikan kontribusi nyata di setiap bencana dan aksi kemanusiaan. Di situlah kita membalas anggapan miring itu,” serunya.

Ia lalu mengingatkan bahwa seragam loreng dan baret merah bukanlah alat untuk gagah-gagahan. “Itu adalah representasi identitas dan ideologi. Sesuai Mars Kokam, kalian wajib memiliki tiga karakter dasar: Berani, Ikhlas, dan Bersahaja. Rendah hati. Itu tameng kalian,” tegas Muhammad Maji.

Dengan mimik serius, ia memperingatkan bahaya laten kesombongan yang bisa muncul dari atribut semi-militer. “Secara psikologis, seragam ini bisa memicu ego. Oleh karena itu, mulai dari sekarang, hal pertama yang harus kalian lakukan adalah menata niat. Pendidikan ini untuk membentuk keteguhan mental dan moral, bukan mencari panggung. Jaga kerendahan hati demi meraih rida Allah SWT,” pintanya penuh kewibawaan.

Soliditas di Bumi Perjuangan

Ketua PDPM Kabupaten Nganjuk, Naji’Alan, menjelaskan bahwa Diklat yang berlangsung selama dua hari ini dirancang komprehensif. Hari pertama difokuskan pada penguatan materi seputar Kokam dan SAR, sementara hari kedua akan diisi dengan simulasi penanggulangan bencana secara kolaboratif bersama Organisasi Otonom (Ortom) tingkat daerah.

“Harapan kami, kegiatan gabungan seperti ini bisa menjadi agenda rutin. Ini adalah wujud soliditas antar-Ortom sekaligus pembinaan potensi kader secara berkelanjutan,” ucapnya, optimistis.

Rangkaian pembukaan yang syahdu diakhiri dengan sebuah seremoni puncak. Di bawah langit Nganjuk yang cerah dan sejuknya hembusan angin Gunung Wilis, dilakukan penyerahan bendera pataka. Pengibaran pataka itu menjadi simbol resmi dimulainya Diklat, pertanda bahwa 80 kader ini kini resmi digembleng untuk menjadi jawara-jawara kemanusiaan yang siap mengabdi tanpa henti, dengan keberanian, keikhlasan, dan kerendahan hati.

Penulis : Rahmat Solekan

Tulisan Terkait

Back to top button