Hijrah Sebagai Tonggak dari Umat yang Tertindas jadi Mandiri

Jelang 8 hari menuju bulan Muharam, Kajian Ahad Pagi PCM Loceret mengambil tema “Hikmah Hijrah” dengan narasumber Ustadz Ir. Aditya Candra di Masjid al Mutaqin loceret. Kajian dihadiri oleh ortom Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiah, karyawan AUM yang berdomisili di Loceret, warga dan simpatisan Muhammadiyah dari Kecamatan Pace dan Loceret. Memulai kajian tentang Hijrah, Ustadz Aditya memaparkan beberapa hal yang terkait tentang bulan Muharam. Bulan pertama dalam kalender Islam. Dalam bulan Muharam kemaksiatan hukumannya lebih berat, sebaliknya kebaikan pahalanya dilipatgandakan.

Ustadz Aditya mendefinisikan makna hijrah adalah meninggalkan semua larangan Allah. Momen jelang pergantian tahun Hijriyah yang insyaallah 8 hari lagi dapat dimanfaatkan untuk evaluasi diri tentang ketaatan kita pada Allah, evaluasi terhadap seluruh amalan kita. Menurut Ustad, Nabi bersama sahabat dan kaum muslimin keluar dari Mekah pada bulan Safar ke arah utara menuju Madinah yang berjarak kurang lebih 450 Km di tengah terik matahari yang bersuhu 46′ Celsius. Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh rombongan Nabi. Contohnya, Abu Salamah yang harus berpisah dengan istri dan anaknya.
Hikmah Berhijrah
Hikmah berhijrah adalah: 1) ketika di Mekah kaum Muslimin lemah hingga dakwah dilakukan sembunyi-sembunyi, karena selalu dihalang-halangi kaum kafir, setelah hijrah jadi kuat dan mandiri, 2) meninggalkan, memisahkan diri untuk perbaikan di tempat yang lebih aman, 3) Cakupan dakwah lebih luwas.
Refleksi Peristiwa Hijrah
Berikut refleksi peristiwa hijrah menurut Ustadz: 1) tonggak perubahan dari umat tertindas jadi mandiri, 2) perubahan besar perlu lingkungan yang mendukung; 3) perlu pengorbanan yang besar; 4) perlu persiapan yang matang; 5) jika kita sabar di masa sulit, maka Allah akan menolong.
Aplikasi hijrah kini
Mengaplikasikan hijrah dalam kehidupan kita kini dapat dimulai dengan hijrah amal, misal: meninggalkan riba dan korupsi, yang semula tidak berjamaah salat wajib jadi berjamaah, meninggalkan keburukan menuju kebaikan, keluar dari zona nyaman, membangun persaudaraan. Disamping hijrah amal ada hijrah hati, misal: banyak mengingat mati, berusaha lebih dekat pada Allah.
Penutup
Hijrah mengingatkan kita tentang perubahan yang harus kita lakukan dengan meninggalkan perbuatan buruk menuju perbuatan baik. Dengan hijrah hati, kita banyak mengingat mati dan senantiasa berusaha mendekatkan diri pada Allah dengan melakukan ketaatan pada Allah SWT.
Penulis : Panggih Riyadi




