Baitul Arqam MPKSDI : Muhammadiyah Harus Bergerak, NTNT (Niat Tandang, Niat Tandang)

Nganjuk– Semangat pergerakan Muhammadiyah terus digaungkan dalam kegiatan Baitul Arqam Guru dan Karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Pendidikan yang diselenggarakan oleh Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Nganjuk. Mengusung tema “Internalisasi Ideologi Muhammadiyah dan Transformasi Etos Kerja Profesional”, kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, 24–26 Juli 2026, di SMK Muhammadiyah 3 Nganjuk.
Memasuki hari kedua, peserta mendapatkan penguatan ideologi dan semangat perjuangan dari Ayahanda Andik Joko Santoso, M.Pd. Dalam pemaparannya, ia mengisahkan perjalanan pengabdiannya yang dimulai dari organisasi kepanduan dan kemanusiaan, seperti Pramuka dan PMR, hingga mengabdikan diri di dunia pendidikan Muhammadiyah sebagai guru dan pernah dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk hingga kini di SMA Negeri 3 Nganjuk.
Berangkat dari pengalaman panjang tersebut, Andik menegaskan bahwa Muhammadiyah dibangun di atas prinsip kolektif kolegial , yakni setiap keputusan ditempuh melalui musyawarah dan mufakat, sehingga seluruh kader memiliki tanggung jawab bersama dalam memajukan persyarikatan.
Ia juga mengungkapkan fenomena yang kerap ditemuinya selama berkiprah di Muhammadiyah. Menurutnya, tidak sedikit masyarakat yang dengan penuh keikhlasan mempercayakan asetnya kepada Muhammadiyah untuk dikelola demi kemaslahatan umat.
“Di Muhammadiyah itu kadang-kadang aneh, banyak tanah yang diberikan kepada Muhammadiyah,” ujarnya.
Sebagai contoh, ia menyampaikan adanya hibah wakaf senilai Rp4 miliar dari seorang wakif asal Yogyakarta yang diperuntukkan bagi Muhammadiyah Nganjuk untuk dikelola dan dikembangkan di wilayah Bagor.
Dalam bidang dakwah, Andik mengajak seluruh kader untuk terus mengembangkan dakwah yang adaptif di tengah masyarakat yang majemuk. Dakwah, menurutnya, tidak hanya dilakukan secara struktural, tetapi juga melalui pendekatan kultural yang bijaksana, humanis, dan tidak kaku, selama tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam.
Kepedulian terhadap lingkungan pun menjadi bagian dari materi yang disampaikan. Ia mengajak seluruh peserta, yang terdiri atas 32 guru dan karyawan AUM Pendidikan se-Kabupaten Nganjuk, membiasakan membawa botol minum atau tumbler dalam setiap aktivitas di sekolah maupun di tengah masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap pengurangan sampah plastik.

Selain itu, Andik memaparkan empat pilar utama gerakan Muhammadiyah, yaitu Gerakan Islam, Gerakan Dakwah, Gerakan Tajdid (pembaruan), dan Gerakan Sosial . Keempat pilar tersebut dijelaskan secara gamblang, menurutnya, harus menjadi landasan setiap kader dalam mengabdikan diri kepada persyarikatan dan masyarakat.
Pesan yang paling membekas dalam sesi tersebut adalah ajakannya agar seluruh kader terus aktif bergerak.
“Muhammadiyah itu harus bergerak. NTNT, Niat Tandang, Niat Tandang,” tegasnya, disambut antusias para peserta.
Ia juga mengingatkan agar kader Muhammadiyah tidak menjadi “kader oplosan”, melainkan tumbuh sebagai kader tulen yang memiliki integritas keagamaan, keluasan ilmu, kepedulian sosial, serta kemampuan berorganisasi. Guru, sebagai mayoritas peserta, didorong menjadi agen tajdid yang mampu menghadirkan pembaruan, membangun jejaring, meningkatkan kualitas sekolah, baik dari sisi fisik maupun sinergi program yang berdampak positif.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Organisasi Otonom ( Ortom ) Muhammadiyah merupakan ruang strategis bagi kader untuk mengembangkan potensi sesuai minat, bakat, dan jenjang usia, Aisyiyah , Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Hizbul Wathan, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Tapak Suci Putra Muhammadiyah juga Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang beliau anekdotkan IMM = Indahnya Menikah Muda .
Keteladanan tokoh-tokoh besar Muhammadiyah, seperti KH Ahmad Dahlan hingga Jenderal Soedirman, dihadirkan sebagai inspirasi agar kader mampu meneladani nilai perjuangan, keikhlasan, dan semangat berkemajuan.
Sesi berlangsung interaktif melalui dialog bersama peserta. Salah satu pertanyaan disampaikan oleh Nurhidayah guru dari SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk mengenai kendala siswa yang tidak mengikuti kegiatan maupun ujian ISMUBA (Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab). Menanggapi hal tersebut, Andik menekankan pentingnya pendekatan persuasif kepada peserta didik, membangun komunikasi yang baik, serta memberikan pendampingan secara berkelanjutan agar mereka memahami pentingnya pendidikan karakter dan keislaman.
Melalui Baitul Arqam ini diharapkan lahir kader-kader Muhammadiyah yang semakin kokoh ideologinya, profesional dalam mengemban amanah, serta mampu meneruskan nilai-nilai perjuangan para founding father Muhammadiyah. Semangat berkemajuan tersebut diharapkan terus menguatkan peran Muhammadiyah dalam mewujudkan Masyarakat Berdaya, Indonesia Berjaya.
Penulis: Luqman Nurudin, Dip.Kmd., S.Pd.




