100 Penghela HW Nganjuk Dilantik di Monumen dr. Soetomo: Kader Sejati Harus Selalu Bergerak!

Nganjuk – Monumen dr. Soetomo, tempat kelahiran sang pencetus Boedi Oetomo, berubah menjadi saksi lahirnya generasi baru penggerak kepanduan Hizbul Wathan (HW) Kabupaten Nganjuk. Sebanyak 100 kader muda resmi dikukuhkan sebagai Taruna Melati 1 dan 2 tingkat Penghela dalam pelantikan yang berlangsung selama dua hari, Senin-Selasa (22-23/6/2026).
Suasana khidmat dan penuh semangat menyelimuti area monumen sejak pagi hari. Ratusan peserta dari berbagai Qobilah SMA dan SMK se-Kabupaten Nganjuk tampak berbaris rapi mengenakan seragam cokelat khas Hizbul Wathan, siap menjalani prosesi pelantikan yang menjadi puncak dari perjalanan panjang kaderisasi mereka.
100 Kader Terbaik Lolos Seleksi Ketat
Dalam laporannya, Ketua Kwartir Daerah Hizbul Wathan Kabupaten Nganjuk, Ramanda Sudarmanto, menyampaikan bahwa pelantikan ini diikuti oleh perwakilan dari seluruh Qobilah SMA dan SMK se-Kabupaten Nganjuk dengan total 100 peserta.
“Mereka adalah kader-kader terbaik yang telah melalui serangkaian uji kecakapan umum, keterampilan kepanduan, hingga evaluasi mental dan kedisiplinan. Pelantikan hari ini adalah buah dari proses panjang yang mereka jalani,” ujar Sudarmanto.
Beliau juga menambahkan bahwa status Penghela bukanlah sekadar gelar, melainkan amanah untuk menjadi teladan dan pemimpin bagi kader-kader di bawahnya. “Kami berharap, setelah dilantik, mereka mampu mengemban tugas sebagai penggerak utama di qobilah masing-masing,” pungkasnya.
Pesan Ketua PDM Nganjuk: “Kader Itu Aktif, Bukan Diam!”
Momentum paling dinanti dalam acara tersebut adalah sambutan dari Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Nganjuk, Juwari, S.Pd. Dengan suara tegas dan penuh wibawa, beliau menyampaikan pesan mendalam yang langsung menyentuh hati para peserta.
“Anak-anakku sekalian, kepada seluruh kader Hizbul Wathan yang baru saja dilantik, saya berpesan: teruslah bergerak dan berproses. Karena yang namanya kader itu selalu aktif dan bergerak. Jangan pernah diam, jangan pernah berhenti belajar, dan jangan pernah lelah berbuat kebaikan,” tegas Juwari di hadapan ratusan peserta dan pembina.
Beliau juga mengingatkan bahwa seorang kader sejati tidak hanya hadir saat acara seremonial, tetapi harus menjadi motor perubahan di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. “Kalian adalah calon pemimpin bangsa. Tunjukkan bahwa Hizbul Wathan melahirkan generasi yang tangguh, beriman, dan berakhlak mulia,” tambahnya.
Pesan tersebut disambut dengan gemuruh tepuk tangan dan yel-yel semangat dari seluruh peserta, menandakan tekad bulat mereka untuk terus mengabdi dan berkontribusi.
Monumen Bersejarah, Semangat Abadi

Pemilihan Monumen dr. Soetomo sebagai lokasi pelantikan bukanlah tanpa makna. Tempat kelahiran pahlawan nasional yang juga pendiri Boedi Oetomo ini dipilih untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan sejarah perjuangan kepada para kader muda HW.
Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan tidak hanya diisi dengan upacara pelantikan, tetapi juga rangkaian pembinaan karakter, diskusi kepanduan, hingga apel kebersamaan yang mempererat silaturahmi antarpeserta dari berbagai sekolah.
Salah satu peserta, Riki (17) dari SMKM 2 Nganjuk, mengaku sangat terkesan dengan suasana pelantikan. “Rasanya bangga sekali bisa dilantik di tempat bersejarah seperti ini. Pesan dari Bapak Juwari juga sangat menginspirasi saya untuk terus aktif dan tidak pernah puas dengan kemampuan yang ada,” ujarnya dengan penuh semangat.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan berakhirnya kegiatan pelantikan, seluruh 100 kader resmi menyandang status Penghela Taruna Melati 1 dan 2. Mereka diharapkan menjadi ujung tombak gerakan Hizbul Wathan di Kabupaten Nganjuk, serta mampu menginspirasi lebih banyak pemuda untuk bergabung dan berkontribusi dalam gerakan kepanduan yang berbasis nilai-nilai Islam dan kebangsaan.
“Selamat kepada para penghela baru. Tunjukkan bahwa HW Nganjuk mampu melahirkan kader-kader unggul yang siap bersaing di tingkat daerah, nasional, bahkan internasional. Terus bergerak, berproses, dan berkarya!” tutup Juwari mengakhiri sambutannya.
Di bawah langit sore Nganjuk, seratus pasang tangan terangkat dalam ikrar setia. Monumen dr. Soetomo kembali mencatat sejarah—bahwa kader Hizbul Wathan Nganjuk selalu siap bergerak, hari ini dan selamanya.
Penulis : Joko Winarto




